Rela Berbagi Ikhlas Memberi

Blog Cak Ali


Mengapa guru perlu mengembangkan Bahan Ajar?

 

Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum,  karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan, standard kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri. Untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi sebagai bahan ajar pokok ataupun suplementer. Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi tuntutan kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementer adalah bahan ajar yang dimaksudkan untuk memperkaya, menambah ataupun memperdalam isi kurikulum.

 

Mikogo sahabat PSB-SMA, diskusi online yang patut direkomendasikan

 

  Beginilah cara kami bekerja. Untuk merampungkan sebuah dokumen terkait program-program PSB-SMA, tidak harus bertemu secara fisik. Memanfaatkan teknologi adalah pilihan utama. Meski sempat dibingungkan dengan terlalu banyaknya software-software realtime conference, akhirnya kami meminang Mikogo yang gratis tapi oke. Mikogo adalah aplikasi remote desktop gratis berfitur penuh untuk  membantu Anda dalam melakukan konferensi web yang sempurna, pertemuan online, atau sesi  dukungan jarak jauh.


Berbagi/sharing isi layar desktop atau aplikasi dalam kualitas warna true color dalam waktu bersamaan, dari Jakarta, Bandung, Purwokerto, Sidoarjo dan Yogyakarta. Yang jelas bisa juga dari seluruh dunia sampai dengan 10 peserta secara bersamaan, sambil masih duduk di meja Anda, bisa sambil makan, minum, dan terutama sambil baca dokumen yang lagi dibahas.

 Mikogo dapat digunakan untuk keperluan profesional, akademis, maupun pribadi, termasuk web conferencing, pertemuan online, demo penjualan, presentasi web, dukungan jarak jauh, kolaborasi kelompok, dan banyak lagi. Memberikan dukungan teknis secara online melalui remote control.

IKHLAS BERBAGI BUKAN SEKEDAR MOTTO

Ikhlas Memberi  bukan sekedar motto keduniaan. Lebih dalam kalau anda benar-benar bisa merasakan dan menikmatinya, maka keseluruhannya akan membuat ketenangan dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan akherat kita.

JAngan kira urusan PSB hanya urusan keduniaan. Kalau hanya urusan bhan ajar dan bahan uji, memang di luar sana jutaan website, jutaan pakar, jutaan guru dan user yang lebih communited. Ada satu yang berbeda di PSB SMA : semuaanya digagas bersama, dipikirkan bersama, didisain bersama, dikerjakan bersama, dirasakan bersama dan dinikmati bersama. Dilandasi kebersamaan itulah, saya merasakan kalau pergi ke jakarta, pada akhirnya saya niati untuk beribadah, entah seberapapun parameternya, pokoknya niat ibadah .... ( pembicaraan khusus tentang konteks ibadah akan kita diskusikan kemudian).

Intinya begini : Kalau saya bertanya pada anda, apakah sudah ada keikhlasan dalam melakukan semua  kontribusi kita dalam pengembangan website ini? 

Jawabnya akan gampang-gampang sulit. kan ? Mau bilang ikhlas, kok kayaknya narsis banget. Kalau bilang enggak ikhlas, juga kok ternyata memang kita mau berbagi untuk sesama.

Tapi begitulah memang sebenarnya yang terjadi. Menurut pak kiyai agak susah menilai keikhlasan . Apalagi kalau sudah dicampuri dengan bisikan niat jelek dari komunitas para setan. Tentu hasilnya tidak akan seindah yang diharapkan.

Referensi keagamaannya begini :

PERLUKAH BIAYA BESAR UNTUK MEMBANGUN SMA BERBASIS ICT ?

 

Memang sangat relatif. Infrastruktur untuk kegiatan tersebut sudah lama disediakan. Mulai satuan pendidikan setingkat Taman Kanak Kanak sampai setingkat SMA, telah memiliki komputer. Di beberapa  Kabupaten/Kota mempunyai jaringan wireless yang menjaring sistem komputer sekolah-sekolah se kabupaten/kota. Masalahannya hanya seputar optimalisasi dan luasnya cakupan. Kalau konten (isi) semua infrastruktur tersebut diupayakan dengan maksimal, serta cakupan penggunanya diperluas.

Untuk konten sumber belajar, guru-guru perlu diberi kepercayaan untuk membuat sendiri bahan ajarnya. Selanjutnya dalam setiap paket pembelajaran, diberi kesempatan dan dipacu menggunakan fasilitas multimedia yang dimiliki oleh satuan pendidikannya.

Dua tahun terakhir, mayoritas guru SMA dari berbagai mata pelajaran telah dilatih membuat bahan belajar berbasis multimedia pada level nasional.  Hasilnya cukup banyak dan layak digunakan untuk pembelajaran beberapa Kompetensi Dasar. Penguasaan software juga rata-rata cukup baik. Dari program pembuat presentasi yang sederhana, banyak guru yang bahkan bisa memproduksi bahan ajar untuk aplikasi pembelajaran mandiri bagi siswanya.