Blog ismail fizh
KOMITMEN WAKTU…MUDAH TAPI BERAT
Dalam sebuah diskusi kecil, saat saya ngobrol dengan temen yang duduk di samping saya, saya bertanya padanya, “ Sudah jam “segini” mengapa diskusinya belum dimulai?” “ Kan sudah hampir …. menit lebih dari waktu yang direncanakan?” Imbuh saya lagi.
Banyak sekali jawaban-jawaban yang disampaikan atas pertanyaan sederhana itu. Dan saya pun dapat memakluminya untuk kondisi saat itu.
Peristiwa diatas merupakan peristiwa yang lumrah dan banyak kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah dalam forum resmi, setengah resmi atau pun forum sekedar “obrolan” dipinggir jalan sekalipun. Karena sudah “saking lumrahnya” maka ada sebagian masyarakat yang kemudian mengganggapnya “ah itu hal biasa.”
Bertitik tolak dari apa yang sehari-hari kita temukan tadi, sudah seharusnya kita memulai untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, yang oleh sebagian masyarakat kita dianggap lumrah.
Apa Yang Hilang Dalam Pendidikan Kita?
Beberapa waktu lalu, saya merenung atas apa yang saya lihat, alami dan rasakan saat mengajak kerja bakti anak-anak di lingkungan sekolah…sungguh diluar dugaan. Ada kekecewaan, keresahan dan rasa miris (jw. Khawatir diiringi rasa ngeri). Melihat kenyataan seperti itu, kemudian memunculkan banyak pertanyaan tentang apa yang sudah dilakukan oleh sebagian teman-teman saya di lapangan. Mengapa saya katakan sebagian? Karena saya yakin, masih banyak teman-teman seprofesi yang sudah memberikan semua potensi terbaiknya kepada peserta didik tanpa pilih kasih.
Beberapa Hal Yang Perlu Dicermati Saat Anda Akan Kuliah...
Tidak lama lagi pelaksanaan ujian nasional SMA akan segera dimulai, Insya Allah Maret, sekitar minggu ke-2 atau ke-3 kegiatan tersebut akan digelar. Kemudian hari-hari yang ditunggu oleh setiap peserta ujian pun tiba, pengumuman hasil Ujian Nasional. Nah setelah itu, akan kemana mereka ?
Jawaban yang dominan hanya dua, yaitu melanjutkan studi atau ingin segera bekerja dengan ijazah yang mereka peroleh. Untuk pilihan ke-2 tentu mereka harus pandai membaca peluang, karena betapa besar jumlah lulusan yang sama-sama ingin mendapatkan pekerjaan. Sungguh sebuah persaingan yang sangat luar biasa.
Bagi mereka yang memilih untuk melanjutkan studi, perjuangannya pun juga tidak ringan, persaingan yg juga ketat untuk memperoleh kursi di Perguruan Tinggi idamannya akan mereka tempuh.
Sebelum Anda memutuskan untuk memilih sebuah perguruan tinggi dan jurusannya, beberapa pertimbanganharus Anda pedomani:
1. Kemampuan akademik dan Minat
Kemampuan akademik setiap orang tidak sama, ada yang tinggi, sedang, atau (maaf) di bawah rata-rata. Saat Anda ingin menentukan pilihan Perguruan Tinggi dan jurusannya, maka beberapa pertanyaan harus Anda Jawab dengan jujur, antara lain Seberapa kemampuan akademik Anda dan seberapa besar minat Anda dengan pilihan tersebut ? Jangan memaksakan pilihan Anda pada Perguruan Tinggi ternama dengan jurusan yang Favorit kalau Anda merasakan kurang mampu bersaing untuk mendapatkan ”kursi”.
2. Pemilihan Jurusan
"CITIZEN LAW SUIT" UJIAN NASIONAL
Peringatan Hari Guru tahun ini dirayakan dengan penuh hikmat di berbagai daerah, tidak ketinggalan juga di daerah ku, daerah yang jauh dari hingar bingarnya ibu kota. Namun dibalik kehikmatan itu, mungkin baru sebagian teman-teman sejawat yang tahu tentang apa dan bagaimana nasib UNAS saat ini dan saat mendatang setelah digugat melalui proses citizen law suit. Dan hasilnya MA mengabulkan gugatan tersebut dan bahkan MA juga menolak kasasi pemerintah berkenaan hal ujian nasional itu.
"Dengan ditolaknya kasasi itu, diharapkan, UN tidak lagi menjadi alat penentu kelulusan. Penyelenggaraan ujian akhir dan penentuan kelulusan sudah seharusnya dikembalikan kepada guru dan satuan pendidikan (sekolah), demikian keinginan sebagian pengamat dan pemerhati pendidikan di negeri ini, meskipun juga ada yang menyambut dingin keputusan ini.
Kepastian ditolaknya permohonan kasasi pemerintah ini dituangkan di dalam Putusan MA tertanggal 14 September 2009 bernomor register 2596 K/PDT/2008 ,seperti dilansir di situs resmi MA. Perkara hukum mengenai UN ini muncul sudah cukup lama yaitu sejak tahun 2006 silam menyusul gugatan warga negara yang diajukan 58 guru. Ketika itu PN Jakarta Pusat mengabulkannya dengan dikuatkan putusan banding dan kasasi.
Membangun Karakter Melalui Pendidikan
Kalau kita mencermati apa yang terjadi di sekitar kita saat ini, kadang kita akan mengurut dada sambil menghela nafas dalam-dalam, lalu bertanya dimanakah julukan bagi negeri ini “bangsa yang santun, bangsa yang ramah, bangsa yang religius, bangsa yang memiliki rasa kekeluargaan tinggi, negeri yang cinta damai…” dan sebutan-sebutan lain yang sungguh menyejukkan hati setiap pendengarnya?
Nampak-nampaknya julukan itu saat ini hanya tinggal kenangan. Lihat peristiwa-peristiwa di sekeliling kita. Berita tentang kekerasan hampir tiap hari dapat kita temukan di media cetak, televisi atau media lainnya. Demonstrasi yang berakhir anarkhis juga demikian.
Sungguh mengerikan. Maka wajar jika akhir-akhir ini banyak warga asing yang akan berhitung ulang ketika akan berkunjung ke negeri ini. Sungguh berbeda dengan beberapa puluh tahun silam. Mereka menjadikan negeri ini sebagai tujuan utama untuk berlibur, berwisata, menghilangkan kejenuhan dari negeri mereka masing-masing
Lalu Kenapa hal ini berubah begitu cepat? Tentu kalau kita kaji lebih dalam, masalah ini bagai mengurai benang kusut. Rumit dan rumit. Namun demikian kerumitan serumit apapun sekiranya titik persoalannya bisa diurai, maka masalah tersebut bisa dikurangi. (kalau memang tidak bisa dihilangkan)
Pendidikan, berbicara tentang masalah ini sungguh sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, dalam setiap permasalahan yang timbul di masyarakat, pendidikan selalu termasuk yang disorotnya. Gejolak apa pun.
- 1
- 2
- berikutnya
- akhir
