Rela Berbagi Ikhlas Memberi

Lebaran di Pegayaman


By semadi yasa - Posted on 19 September 2010

Muslim di Pegayaman, Buleleng

 

SUASANA Lebaran di Bali tampaknya bisa disaksikan di sebuah desa bernama Pegayaman. Memang, sulit rasanya dimengerti bila melihat kehidupan masyarakat Pegayaman, Sukasada, Buleleng Bali ini. Sebab, ditengah-tengah bergulirnya arus kemajuan zaman, ada anggota masyarakat yang seolah terpaku pada pola hidup lama. Konon hal itu merupakan warisan dari leluhurnya asal Blambangan, Banyuwangi Jawa Timur, dan dipadukan dengan budaya Hindu Bali.

Desa Pegayaman ini berpenduduk 1000 Kepala Keluarga atau 5.000 jiwa. Lokasinya di ketinggian bukit dan dikelilingi pepohonan rindang, sawah, dan ladang. Semua warganya memeluk agama Islam. Tatkala Lebaran, mereka merayakannya namun bernuansa masyarakat Hindu. Hiasan rumah dan tata cara berpakaian dan aksesoris, juga tak terlepas dari masyarakat Hindu.

Tak hanya itu, bahkan nama-nama pengurus masjid dan umat Islam setempat, juga bernuansa Hindu. Ya, itulah uniknya. Yang membe­dakan hanya nama belakangnya, yang mencerminkan nama Muslim. Misalnya, Wayan Hasan dan Made Imam, nama untuk pria. Sementara untuk nama wanitanya, Ni Nyoman Siti atau Ni Made Fatima.

Paduan nama antara Muslim-Hindu Bali tersebut sudah melekat seolah sulit dipisahkan. Sehingga, tak sedikit tampak ada semacam rasa minder muncul diraut wajah mereka. Dalam pergaulan sehari-hari dengan warga Bali lain, mereka pun tak memperlihatkan adanya jarak. Bahkan penduduk Pegayaman justru sangat erat hubungan dengan puri Buleleng di Kota Singaraja.

Lantas apa yang melatarbelakangi kehidupan warga Desa Pegayaman tersebut sehingga tanah Bali mereka anggap sebagai kampung leluhurnya ?

Sejarah mencatat sekira abad ke-16 ketika terjadi peperangan antara kerajaan Buleleng melawan Kerajaan Blambangan, sekelompok laskar Blambangan yang membantu Raja Buleleng, usai peperangan itu, diajak ke Bali. Mereka kemudian ditempatkan di wilayah bukit berhutan gatep (bahasa Bali).

Selain sebagai pengawal puri juga menjadi desa benteng seandainya musuh kembali menyerang. Karena pada masa itu, antara Buleleng-Mengwi bermusuhan. Di Alas Gatep itulah para laskar Blambangan tersebut bertempat tinggal dan menggarap lahan pertanian.

Lama-kelamaan hutan gatep menjadi kian langka seiring dengan warga pleset menyebutnya "gayam" artinya buah gatep. Sebutan inilah digunakan sampai sekarang dengan menambah awalan dan akhiran, sehingga menjadi kata Pegayaman.

Menariknya lagi, warga Desa Pegayaman pun tak peduli akan hal tersebut. Justru yang mereka banggakan adalah leluhurnya merupakan laskar Blambangan dan mereka merupakan keturunan kerabat puri Buleleng.

Kerabat yang sudah dijalin kental sejak dulu itu tetap berlaku sampai sekarang. Sehingga, apa pun kegiatan di puri Buleleng, pasti melibatkan pula warga Desa Pegayaman. (Gede H. Cahyana)**

Inilah salah satu keunikan adat dan budaya masyarakat di sebuah pulau yang dikenal dengan sebutan pulau dewata, pulau dengan seribu pura. Sebuah harmoni antara budaya Jawa dan Bali, antara agama Islam dan Hindu. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka tak terlihat kehidupan yang berbeda diantara yang muslim dan hindu. Mereka berbaur dan menyatu, tiada perbedaan.

Purwanto Noto Negoro
User offline. Last seen 4 hari 9 hours ago. Offline
Joined: 16/06/2010

bagus itu pak, saya hanya bisa berharap semoga hubungan kekerabatan mereka langgeng sampai akhir jaman

harisbudisantosa
User offline. Last seen 1 tahun 24 pekan ago. Offline
Joined: 08/06/2010

Salam Kenal untuk Pak Semadi Yasa
Mudah-mudahan jalinan ukhuwah/ kerukunan antar umat islam dan Hindu akan ajeg terus.
By harisbudi santosa(guru sman kerambitan tabanan) yg kebetulan istri saya dr pegayaman.