Rela Berbagi Ikhlas Memberi

Paparan Sarat Makna


By agushh - Posted on 12 Juli 2011

 Luar biasa!. Pada hari kedua pelaksanaan Workshop Pengembangan Bahan Ajar dan Bahan Uji Berbasis TIK dipaparkan plus divisualkan bagaimana TIK bisa memengaruhi dan mengubah dunia. Adalah pak Ono—Ir. Ono W. Purbo, M.Eng., Ph.D—dengan penuh semangat menyulap para peserta tertegun dengan bagaimana pemanfaatan e-lerning dalam pengembangan pembelajaran berbasis TIK.

Menarik bagi saya untuk menuliskan bagaimana pak Ono menghasilkan berbagai karya termasuk buku-buku. Anehnya, menurut pengakuan beliau, pak Ono memiliki sifat pelupa akan tetapi justru keadaan ini mampu ditutupi dengan kerajinan “menyelamatkan” gagasan atau temuan teknologi yang selalu ditulis dalam laptop. Jadilah buku-buku. Buku-buku karya beliau justru sekarang menjadi buku yang senantiasa dinikmati oleh seluruh pembaca, tentu saja melalui media online.

Pengalaman pak Ono ini mengingatkan saya kepada gaya para penulis modern. Maksud saya, ketika teknologi belum melahirkan ponsel, laptop, bahkan internet. Umumnya para penulis “mengamankan” gagasan melalui catatan kecil baik pada kartu nama yang ada di dompet, kertas aluminium pembungkus rokok, atau jenis kertas lain yang ditemukan. Namun sekarang jarang kita jumpai kasus seperti ini. Sebagai contoh ketika saya mendengarkan sekaligus menyaksikan media ajar yang disampaikan pak Ono. Ponsel menjadi media untuk menuliskan kata-kata kunci dari pak Ono yang menurut saya bakalan menjadi gagasan untuk ditulis.

Lain pak Ono, lain pak Romi—Dr. Eng. Romi Satria Wahono—yang memaparkan dan memvisualkan bagaimana mengelola situs belajar dan mengajar (e-leraning) gratis di Indonesia. Karena website ini dikelola, diisi, dan dinikmati kawan-kawan guru yang dimata saya lebih memahami TIK dibanding pribadi saya. Namun saya ingin mewarnai website ini dengan nuansa berbeda seperti artikel ini, misalnya.

Warna ini adalah, saya mencoba memposting artikel-artikel yang nyaris keluar dari TIK. Tetapi substansi yang terkandung tetap memiliki”ruh” pendidikan. Seperti pada paparan pak Ono, yang saya tulis justru keunikan dari beliau. Demikian juga yang saya tangkap dari pak Romi bukan semata paparan substansi topik yang disampaikan. Justru yang ingin saya bagikan adalah “animasi” kata yang luar biasa hebat seperti bagaimana beliau memaknai kinerja otak yang seringkali kurang digunakan secara optimal.

Maksud saya, bagi audien yang benar-benar memerhatikan dan memaknai apa yang diucapkan pasti tersentak, betapa tidak, pak Romi menyampaikan bahwa otak kebanyakan dari kita adalah memiliki “daya keluar” yang tidak bagus dibanding “daya tangkap”. Maksudnya adalah ketika mencari jawaban atas soal-soal atau mencari solusi atas masalah seringkali kita lambat menemukannya. Hal ini dikarenakan mencari kembali informasi yang ada di otak sangat lambat. Ini berarti bahwa manusia—baru menggunakan sekira 1%—sesungguhnya memiliki daya tangkap informasi bagus justru yang terjadi adalah lambat mengeluarkan informasi.

Sehari sebelumnya, mas Iqbal—Iqbal Fauzi Rahmat, SE., MM—menyampaikan dan memvisualkan tentang pemanfaatan TIK dalam pelaksanaan pembelajaran, penilaian, dan administrasi sekolah di SMA. Seperti terhadap kedua pakar TIK di atas, terhadap mas Iqbal perlakuan saya sama. Maksudnya adalah, saya ingin menyampaikan sesuatu yang “unik” dari mas Iqbal dalam memberikan contoh serangkaian kuis  kepada audiens. Mas Iqbal memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menggiring audiens memahami gaya belajar yang dominan pada diri masing-masing.

Maka gaya belajar auditori, visual, dan kinestetis menjadi topik diskusi menarik. Memang selayaknya bagi seorang guru pada saat berinteraksi dengan peserta didik mampu mengakomodir ketiga gaya belajar manusia ini. Bukan berarti satu per satu dilayani tetapi justru berkreasi bila perlu berimprovisasi di ruang kelas.

Pembaca keinginan menulis artikel ini sekira tiga kali tulisan di atas hanya saja saya harus mulai menyiapkan diri dalam menghadapi “tantangan” yang bakal kami terima di workshop ini. Bukan begitu wahai kawan-kawan fasilitator? Hehehe ....

 Ok, saya akhiri “pengalaman” dua hari ini dengan sebuah frasa “Rela Berbagi Ikhlas Memberi”. Ayooooo ....

 

Awan Sundiawan
User offline. Last seen 3 pekan 1 hari ago. Offline
Joined: 26/09/2008

Tetap semangat pagi Pak.

agushh
User offline. Last seen 10 pekan 3 hari ago. Offline
Joined: 04/04/2010

Makasih pak Awan. Semangat oagi!

budi
User offline. Last seen 1 hari 4 hours ago. Offline
Joined: 01/08/2008

mungkin sebaiknya tulisan ini sebagai awalan sebuah buku yang berjudul "antara workshop dan peserta" ... he he he kami tunggu edisi terbaru dari kang agus.

agushh
User offline. Last seen 10 pekan 3 hari ago. Offline
Joined: 04/04/2010

Makasih mas Budi, stimulus yg menantang.... Makasih juga jadi paham DKV yg di pretest blank sekarang, ok deh.... Trims bimbinganya selama 3 hari penuh....

anggi indra
User offline. Last seen 8 pekan 1 hari ago. Offline
Joined: 21/01/2010

ngasih jempol aja deh..ehheh

agushh
User offline. Last seen 10 pekan 3 hari ago. Offline
Joined: 04/04/2010

Nuhun. Isya Allah ketemu di Sumedang salasanya?