Aku Ingin Dibaca
AKU INGIN DIBACA
Karya: Fadri Irman
Penjajahan telah menghancurkan sistem kepercayaan masyarakat Lebak, sehingga membuat kepedihan akibat rakusnya penguasa Negeri. Multatuli adalah Kolonial Belanda yang haus akan sanjungan rakyat Parung Kujang. Cara licik dan busuk di pilih agar tujuanna tercapai yaitu dengan memprovokasi rakyat pribumi bahwa Adipati sangat kejam dalam memimpin rakyat, alhasil penduduk pribumi kagum karenanya dan menganggap bahwa Multatuli adalah pahlawan yang sebenarnya.
Pemerasan, penindasan, perampasan hak, dan asmara berkecamuk hancur lebur menjadi fenomena yang tak jelas keberadaannya. Hal ini membuat Saijah harus merantau ke Lampung untuk mencari uang agar dapat menikahi Adinda untuk memulai hidup baru bersamanya yang berjanji akan kembali setelah cukup tiga kali dua belas bulan.
Semenjak kepergian Saijah, Adinda merasa hidupnya hampa kerna sebagai perempuan yang normal ia butuh cinta, belaian kasih sayang, dan kehangatan agar kebutuhan biologisnya terpenuhi. Karna alas an itulah berkali-kali Adinda melakukan hubungan mesum dengan Adipati.
Melihat kecantikan Adinda Multatuli pun tergoda dan mencari cara agar dapat tidur bersamanya melewati malam-malam semu dalam buaian gairah terlarang. Akhirnya Adinda terjebak dalam perangkap Multatuli. Tanpa di sadari ketika Adinda dan Multatuli bercumbu dalam indahnya nafsu biru datanglah Saijah dan memergoki mereka berdua. Saijah murka amarahnya tak terbendung terjadilah duel yang sangat hebat, Adinda mati di cekik Saijah, sementara Saijah tewas tertembak timah panas Multatuli.
April, 2010
Apresiator:
Kenakalan Sang Sutradara
“Aku Ingin Dibaca”Sebuah karya drama yang mencoba menampilkan sejarah Multatuli dari sisi yang berbeda. Sebuah bentuk karya imajiner dengan tokoh sejarah Multatuli, Saijah, Adinda dan Adipati.
Kenakalan sang sutradara dalam mengemas fragmen sebuah alur sangat memukau konsepsi kita tentang penokohan.
“Aku Ingin Dibaca” Multatuli bilang sebagai hasrat manusia pada umumnya yang kemudian menjadi adrenalin dunia yang mengalirkan warna kehidupan yang boleh jadi tidak bisa dilihat sebagai hitam – putih.
Sejarah tetap seperti masa lalu dari kehidupan kita, dan kita akan tetap memilih untuk melihat bahwa karya seni boleh memilih untuk berimajinasi sekalipun teramat liar. (Drs. Hadi Nugraha, M.Pd. Kepala SMAN I Wanasalam)
IMAJINASI LIAR SANG PENGARANG
Drama tetaplah sebuah karya fiksi yang meminjam ruh dari dunia nyata, lalu ditampilkan dalam fragmen-fragmen yang runut untuk menghadirkan suatu efek estetis, paedagogik, dan romantis. Naskah “Aku Ingin Dibaca” karya Fadri Irman merupakan suatu naskah yang menghadirkan efek estetis, paedagogik, dan romantis “Aku selalu menantimu Saijah” itu yang dikatakan Adinda saat perpisahan. Aku Ingin Dibaca, sebenarnya bukan wajah Kabupaten Lebak tempo dulu, karena nama-nama tokoh dalam naskah tersebut hanya imajinasi semata, penulis hanya menginginkan efek estetis dari tokoh itu…sejarah tetaplah cerita kelam yang menghadirkan masa lalu untuk masa sekarang, kawan ini yang aku katakan paedagogik. (Amat Setiawan, S.Pd. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN 1 Wanasalam)
Kebenaran fiksi pada kebenaran sejarah Multatuli di Lebak
“Aku Ingin Dibaca” karya Fadri Irman bukan yang Maxhavelar inginkan, bukan juga fragmen kisah cinta Saijah Adinda yang sudah lama kita kenal, ini imajinasi liar sang pengarang.
"Aku Ingin Dibaca" kajian naskah teater yang cukup dalam selain menampilkan sejarah ditulis oleh Panglima Yang Menang dalam arti Multatuli salah satu panglima menuju kemenangan dalam berkarya dan dipercaya oleh dunia bahwa Rangkas seperti yang diungkapkan oleh Multatuli. akan tetapi teater Ombak menjawab lain dalam karya "Aku Ingin Dibaca" teater Ombak mengevaluasi kebenaran fiksi pada kebenaran sejarah Multatuli di Lebak, dengan proses jungkir balik naskah 90 derajat menjadi Multatuli yang diperkosa oleh karyanya sendiri. Teater Ombak pun pada dasarnya mencoba dalam karya "Aku Ingin Dibaca" untuk dilirik oleh dunia dengan power Ombaknya mengombang-ambing para penonton lewat performanya mengebalikan penonton menuju pesisir yang menyenangkan, ini bisa diibaratkan teater Ombak mencoba mengupulkan ombak-ombak kecil menjadi ombak yang mampu menghancurkan karang. Teater Ombak Sampaikan terus Syiarmu, jangan putus oleh karang selanjutnya, hancurkan karang Surabaya. (Saefullah Cavin Al-Abarokms. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN 1 Ciomas)
AKU INGIN DIBACA
Karya: Fadri Irman
Adegan I
Lampu menyala kelap-kelip tak beraturan, musik mengantarkan kepedihan. Di dalam layar terdengar suara-suara rintihan tentang masa lalu.
Suara-suara : “Aku sudah bosan dengan gelap
gelap adalah kelam
cahaya mengintip kegelapan
cahaya adalah kehidupan”
Tak lama keluarlah Saijah dan Adinda dengan gerakan romantisme.
Saijah : “Dengan bahasa yang rapih, gaya yang anggun, dan sikap yang gagah keadilan telah diungkapkan oleh para penguasa tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka, mereka keluarkan keputusan yang tidak adil bagi rakyat”
Adinda : “Jadi kau hendak pergi juga?”
Saijah : “Mau bagaimana lagi, sawah dan kerbau saudara kita di rampas secara paksa. Mereka singkirkan apa yang menghadangnya Aku tak ingin kau jadi bahan rampasan juga. Adinda aku akan merantau mencari bekal untuk biaya pernikahan kita, tunggulah aku di sini, di hutan jati di bawah pohon ketapang”
Adinda : “Aku akan selalu menantimu Saijah”.
(Lalu mereka berisahlah dengan gerakan-garakan yang mengambarkan pergantian tempat dan waktu. Tak lama keluarlah Saijah menggabarkan suasuana kerinduan)
Adinda : “Saijah, suda 3 kali dalam 12 bulan kau tak kunjung datang juga di mana kau Saijah. Siang-malam aku selalu kedinginan ke mana lagi harus ku salurkan hasrat ku ini Saijah. maafkan aku Saijah, aku telah menghianati cintamu walau tubuh-tubuh ini telah dinikmati oleh para penguasa tapi batinku hanya untukmu Saijah, kebun ini terasa kering hanya tuanku Multatulilah yang selalu menyiraminya.” (Masuk ke dalam kegelapan)
Adegan II
(terjadi dialog secara cepat antara Multatuli dan Adipati di kediaman Multatuli, menjadi peristiwa layaknya suasana di dalam rapat yang tertutup)
Multatuli : “Kenapa kau peras juga kaum pribumi! Bukankah mereka juga saudaramu!”
Adipati : “Aku hanya menuruti perintahmu.
Multatuli : “Ingatlah Adipati pepatah leluhurmu selalu mengatakan Lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung, nulain kudu dilainkeun, nu ulah kudu diulahkeun, nu eunya kudu di eunyakeun.
Adipati : “Sawah dan kerbau mereka dirampas sacara paksa. Itu ku jadikan sebagai upeti, tanda baktiku padamu. Kalau aku tak menyetor upeti, aku dan kaum pribumi sudah kau bunuh dan menjadi santapan burung bangkai. Sebenarnya aku tak mau menindas, tetapi mau bagaimana lagi. Sekarang kau jadi bahan sanjungan setelah kau provokasi penduduk pribumi, kau peralat semunya dengan sistem adu domba, kau jelek-jelekan aku. Dasar penjilat!”
Multatuli : “Kurang ajar kau Adipati! Akan ku adukan perbuatanmu pada residen Best van Kemper”
Adipati : “ Kenapa kau mesti marah, dasar ular berkepala dua!”
Multatuli : “Adipati enyah kau dari hadapanku sebelum peluru ini menembus jantungmu!”
Adipati : “Baik Tuan,” (penuh ketakutan dan langsung keluar).
(Suara tokek terdengar)
Multatuli : “ (sambil mencari suaea) ada tokek, ada tokek, tokek Rangkasbitung.
Adegan III
(menggambarkan suasana rumah Multatuli)
Multatuli : “Adinda bangkit kau dari kegelapan, Adinda bangkit kau dari kegelapan” Hidup sekarang telah kembali kepada masa silam”
(Keluarlah Adinda)
Adinda : “Hidupku sudah gelap tak tentu arah, karena aku telah menghianati Saijah dan keluargaku”
Multatuli : “Sudahlah! kau lupakan itu yang pasti cita –citaku tercapai”
Adinda : “Maksudmu?”
Multatuli : “Ya aku hidup untuk bermain cantik dan ingin dicatat oleh sejarah. Hahahahaha” banyak pengaduan-pengaduan dari rakyat pribumi. Lalu ku provokasi penduduk pribumi dengan penindasan yang dilakukan oleh Demang, dan Adipati hahahahaha. Lalu kutulis surat kepada Best Van Kemper tentang kepedihan rakyat Parangkujang, Bahadur, Lebak dan Rangkasbitung. Walau banyak yang menentang tapi usahaku tidak sia-sia. Hahahahahah ”
Adinda : “Betapa mulianya hatimu Tuan”.
Multatuli : “Ya karna tujuan ku hanya satu”
Adinda : “ Apa itu Tuan?”
Multatuli : “Ya aku hanya ingin mendapatkanmu dari pada kau di jamah oleh budak-budak ku lebih baik kau dijamah oleh ku. Hahahahahaaa”
Adinda : “Oh! jadi kau sama bejadnya dengan yang lain, dasar penjajah tetap lah penjajah”.
Multatuli : “Ya karena sudah suratan sejarah negerimu harus dijajah!”
(Lalu Multatuli dan Adinda bercumbu rayu melepas hasrat, namun mereka tak sadar bahwa Saijah memergokinya saat pulang dari perantauan)
Saijah : “Adinda jadi ini yang kau lakukan sepeninggalku! kau benar-benar telah menghianati cinta ku Adinda”
Adinda : (ketakutan) “Maafkan aku Saijah”
Saijah : (geram) “Aku mendengar kabar dari para pelancong. Bahwa kau ada main dengan Adipati, tapi nyatanya kau........”
Adinda : “Aku terpaksa melakukannya”
Saijah : “Tapi kau menikmatinya kan!”
Adinda : “Karena kau lama meninggalkan ku dan kalau ada selalu bersikap dingin padaku”
Saijah : (Menampar Adinda) “Dasar perempuan jalang!”
“Multatuli kau adalah penjilat, kurang ajar! kubunuh kau biadap!”
Adinda : “(menghalangi Saijah) “Jangan Saijah!”
Saijah : (mencekik Adinda) “Kau sama saja seperti binatang dan kau Multatuli!”
(Saijah menyerang Multatuli dengan hati yang menggumpal emosi terjadilah perkelahian yang sangat sengit mengakibatkan Saijah mati oleh pelurunya Multatuli)
Multatuli : “Aku Multatuli, hidupku ingin dibaca dan ingin ditulis oleh sejarah hahaaaaaaaa. Akan kuingat kepedihan kaum peribumi. Hahahahahahaaaaa.” (mecair)
Tamat
- Fadri Irman's blog
- Silakan login atau daftar dulu untuk mengirim komentar

siiipp