Rela Berbagi Ikhlas Memberi

Apa Yang Hilang Dalam Pendidikan Kita?


By ismail fizh - Posted on 03 Februari 2010

 

Beberapa waktu lalu, saya merenung atas apa yang saya lihat, alami dan rasakan saat mengajak kerja bakti anak-anak di lingkungan sekolah…sungguh diluar dugaan. Ada kekecewaan, keresahan dan rasa miris (jw. Khawatir diiringi rasa ngeri).  Melihat kenyataan seperti itu, kemudian memunculkan banyak pertanyaan tentang apa yang sudah dilakukan oleh sebagian teman-teman saya di lapangan. Mengapa saya katakan sebagian? Karena saya yakin, masih banyak teman-teman seprofesi yang sudah memberikan semua potensi terbaiknya kepada peserta didik tanpa pilih kasih.

Memang sepintas tidak etis, karena bercerita tentang keluarga besar sendiri. Namun kenapa harus kita menutupinya kalaulah setelah ini dapat menjadi sarana evaluasi bagi kita semua.
Kesimpulan sementara atas apa yg saya rasakan dan lihat antara lain berkurangnya  rasa tanggung jawab, belum tumbuhnya rasa kebersamaan dengan baik, rendahnya keinginan menjaga sarana umum di sekolah, kurangnya disiplin, keinginan menjadi yang terbaik masih rendah, rasa malu yang mulai berkurang, budaya rapi bersih yang juga masih rendah, dll.
Mengapa mereka berlaku seperti itu? Informasi apa yang belum tersampaikan pada mereka ?
Sudah seharusnya hal-hal di atas tidak perlu terjadi di lingkungan pendidikan kita, sekiranya  kita selaku pendidik mengetahui, memahami, menghayati serta mengamalkan gaya kepemimpinan yang dicontohkan  ( Alm) Ki Hajar Dewantara. Sederhana memang pernyataan beliau  “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” tapi sangat besar maknanya karena mencakup aspek “HEART, HEAD dan HAND”. Sebuah gaya kepemimpinan yang sangat dinamis dan luar biasa.
Dalam memraktikan ketigal hal tersebut tidak perlu kita memberi porsi yang sama. Besarnya porsi masing-masing sangat bersifat situasional. Porsi saat berhadapan dengan peserta didik SD tentu akan berbeda dengan porsi saat berhadapan dengan anak SMP atau SMA atau Mahasiswa, tetapi ketiganya harus tetap hadir bersama.
Tetapi yang harus dipahami oleh kita adalah apa dan bagaimana kita harus berperan saat kita berada pada posisi memposisikan “ING NGARSO ” atau “ING MADYO ” atau saat kita memposisikan diri   saat “TUT WURI ”
Dalam Intellectual Effectiveness Series, dinyatakan saat kita berada dan berperan di depan (ING NGARSO ) kita harus mampu melakukan 3 (tiga) hal yaitu :
 
  1. Kepemimpinan yang diawali dengan visi yang bersih dan jelas .
Saat kita mengajak siswa melakukan sesuatu , kita harus dapat menjelaskan kepada mereka sejelas-jelasnya kenapa dia harus “begini” dan harus “begitu”. Jangan sampai kita tidak paham akan tujuan saat kita mengajaknya melakukan suatu aktivitas. Ajari mereka berpikir jauh ke depan melalui pengamatan terhadap diri kita. Keteladanan seperti ini sungguh sangat penting.
Dalam buku “The One Minute Manager” dikatakan , bayangkan jika dalam sebuah pertandingan sepak bola tidak ada gawangnya, ini akan membuat para pemain menjadi frustasi dan bergerak tanpa tujuan.
 
  1. Berikan penghormatan kepada mereka melalui kepercayaan yang kita berikan.
Sekecil apapun kita harus  belajar memberikan kepercayaan kepada mereka. Kesalahan-kesalahan kecil adalah hal yang wajar, karena memang dia sedang pada tahap belajar. Jangan karena kesalahan itu kemudian kita tidak lagi memberikan kepercayaan pada mereka. Kewajiban kita adalah meluruskan kesalahan-kesalahan tersebut agar kelak tidak terjadi kesalahan lagi. Berikan support positif kepadanya agar dia terpacu untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Kesalahan besar yang sering kita lakukan adalah mengecilkan hasil jerih payahnya, alhasil kemudian mereka merasa tidak dihargai. Kalau itu yang selalu menjadi penggambaran atas mereka, jangan harap kita akan menemukan anak-anak yang ulet, gigih , dan selalu berusaha menjadi yang terbaik.
 
  1. Pimpin Mereka dengan keteladanan
Hingga saat ini masih banyak diantara kita baru bisa memberikan contoh-contoh yang baik, namun masih sedikit yang bisa menjadi contoh yang baik. Oleh karenanya jadikan diri kita teladan bagi mereka.  
 
Lalu apa yang kita lakukan saat kita berada di tengah-tengah mereka?
 
  1. Berperanlah seperti seorang “coach”
Tidak ada seorang coach menginginkan timnya kalah…selalu dan selalu menginginkan menjadi yang terbaik. Pendidik yang baik, jadilah motivator yang handal atas peserta didik kita agar mereka meraih puncak kesuksesan. Jangan kita menjadi orang yang kurang  peduli terhadap mereka. Sampaikan apa yg harus mereka lakukan, berikan petunjuk mengerjakan dengan benar, beri kesempatan untuk mencoba, berikan pujian atas apa yang telah diupayakan.
 
  1. Ciptakan suasana seperti tim yang menang
Sama seperti dalam suatu perusahaan, guru, wali kelas, wakasek, kepala sekolah serta komponen staf lain, pada prinsipnya mereka semua adalah manajer. Sebagai manajer kita harus mampu membangun sebuah sinergi yang baik. Kita harus mampu mengoptimalkan setiap individu sehingga menimbulkan gerak satu kesatuan dalam kesearahan dan harmonis.
 
  1. Bangun Komunikasi yang baik
Siswa adalah manusia yang perlu bantuan. Kita harus mampu berkomunikasi dengan baik terhadap mereka. Kualitas komunikasi akan memberikan pengaruh terhadap keberhasilan kita dalam membantu mereka. Dalam hukum komunikasi, agar sistem komunikasi dengan para peserta didik berjalan efektif, maka harus kita pahami 4 hal, yaitu rasa saling menghargai, berusaha mengerti dan memahami, rendah hati, menggunakan media yg tepat dan gunakan bahasa yang jelas serta mudah dipahami olehnya.
 
  1. Harus mendorong untuk selalu berinovasi
Gerakkan anak-anak kita untuk menjadi generasi yang inovatif. Ciptakan di sekolah suasana-suasana dan kondisi-kondisi yang mendukung ke arah itu. Guru harus menjadi inovator bagi mereka. Bagaimana anak akan berkembang sifat inovatifnya kalau mereka melihat para gurunya sangat pasif tidak pernah mencoba serta mengeksplorasi  hal hal baru untuk kemajuan anak-anak.
 
Saat   mengiringi mereka, “TUT WURI HANDAYANI” kita sebagai seorang pemimpin  harus mampu:
 
  1. Menjadi Pengungkit
Kepemimpinan yang efektif bukanlah kepemimpinan yang mengharuskan seorang pemimpin selalu hadir ditengah-tengah mereka, kemudian tim baru bekerja secara maksimal. Hal demikian sungguh sangat keliru. Kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan yg mampu menumbuhkan karakter pada setiap yg dipimpin untuk melakukan aktivitas sesuai tanggung jawabnya tanpa mengharuskan kehadiran pemimpinnya. Seorang guru harus bisa memimpin dengan gaya seperti ini. Coba Anda bayangkan, kalau  siswa hanya segan dan takut sekiranya ada guru yang melihatnya atau menunggunya saat-saat mereka berkegiatan. Ironis bukan? Pada hal kita menuntut mereka semua agar taat terhadap aturan tanpa harus ada yang mengawasinya.
 
  1. Memimpin dengan kecerdasan spiritual.
Memimpin dengan gaya seperti ini tidak semua orang bisa melakukannya. Karena kepemimpinan seperti ini memerlukan sebuah kesadaran yang tinggi sebagai sebuah bentuk pengorbanan. Kita harus bisa rendah hati, tenang, mau melayani,mendengar serta menerima saran atau kritik, bisa mengakui kesalahannya, dll. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi pada manusia. Tanamkan nilai-nilai ini pada mereka sejak dini.
 
Sungguh sebuah gaya kepemimpinan yang paripurna bagi seorang pendidik. Namun kenyataannya di lapangan kadang-kadang masih berbicara lain. Nah itulah yang mendorong munculnya pertanyaan-pertanyaan berikutnya, apa saja yang selama ini telah dilakukan teman-teman semua terhadap peserta didiknya. Sebatas mentransfer ilmu pengetahuan atau mentransfer ilmu pengetahuan yang diikuti transfer nilai-nilai luhur kehidupan?
bagas2000
User offline. Last seen 1 tahun 1 pekan ago. Offline
Joined: 28/12/2009

Wah perpaduan jawa modern yang patut dirunut kembali, semoga di era robotika ini masih dapat menerima keteladanan, kalau saya lihat ( disekitar saya ) yang namanya keteladanan ini musnah sudah semua di"CAPLOK" ditelan oleh dunia selebriti, menurut saya sekarang ini tuntunan jadi tontonan, sedangkan tontonan jadi tuntunan !!! mungkin memang saat inilah yang banyak dikatakan wolak_walik'ing jaman.

M. Fachruddin Saleh
User offline. Last seen 17 pekan 2 hari ago. Offline
Joined: 21/01/2010

Pengalaman yang dialami Bpk. Ismail Fizhi sebenarnya juga terjadi seperti yang saya alami. Ketika kita mengajak siswa untuk melakukan sesuatu yang kita anggap perlu maka kebanyakan mereka akan menolak. Banyak siswa lebih bersikap cuek, sibuk dengan kegiatannya sendiri. Seolah olah mereka tidak ingin adanya kebaikan buat mereka sendiri. Kebanyakan siswa seakan sudah mengerti dari apa yang kita inginkan; padahal, jika dilihat dari hasilnya belum tentu seperti yang kita harapkan. Menghadapi siswa seperti ini memang kesabaran kitalah yang harus dikembangkan dan diutamakan. Kita guru hanya berharap dan berdoa kelak mereka (siswa) akan menemukan jalan yang terbaik buat mereka.

M. Fachruddin Saleh.
SMA Negeri 1 Indralaya Utara Kab. Ogan Ilir

jaen74
User offline. Last seen 1 tahun 37 pekan ago. Offline
Joined: 12/05/2009

Sebenarnya ini juga sebagai koreksi diri. Apakah kita sudah menjadi suri tauladan bagi diri ini dan orang lain. jangan bilang ke orang lain sebelum diri kita baik. nah kata baik ini susah untuk di artikan dan dilaksanakan. baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. mungkin ini juga pak yang di maksud kan oleh sinetron "KIAMAT SUDAH DEKAT". MAri kita tata dulu niat kita untuk mendidik diri kita baru ke orang. SEMOGA KITA BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG DI RIDHOI ALLOH SWT DAN terakhir Wallohua'lam.

MAri mulai sekarang kita NIATkan mendidik hanya karena ALLOH SWT semata amin

SEMANGAT

jaenuri
sman 1 gresik

ismail fizh
User offline. Last seen 9 pekan 2 hari ago. Offline
Joined: 28/10/2008

@ Pak bagas, Pak fachrudin, dan Bung Jaen:
makasih atas semua pencerahan dan komennya, kita berdoa semoga kita bisa menjadi contoh yg benar untuk peserta didik kita,
Untuk bung jaen, mungkin istilah yg lebih tepat adalah kata "benar" yg dlm bahasa arabnya "Haq" ya? Sebab kalau istilah baik mengandung unsur relatif dan subyektif, coba kita sedikit renungkan, istilah "baik" dan "benar"... :-)

djoko wintolo
User offline. Last seen 1 tahun 50 pekan ago. Offline
Joined: 17/02/2010

Saya sering ke pelosok (bukan orang kota), melihat di gedung2 SD ada tulisan CERDAS - TERAMPIL - TAQWA. Itu sudah benar, tinggal bagaimana mewujudkannya. Banyak kehilangan ketrampilan, yang sederhana saja, misalkan membuat ketupat, menganyam bambu, belajar berkebun dsb. Taqwa bukan sekedar rajin sholat atau sembahyang tetapi dalam arti luas mencakup pelajaran budi pekerti. Ketika masih SD, saya ingat betul (usia saya skrg 56 thn), semua guru SD saya, begitu memasuki halaman sekolah, dia turun dan sepedanya dituntun, tidak dinaiki, nanti murid2 kadang ada yang menjemput, membawakan tas dan sepedanya. Sekarang hal itu hilang, malah pak guru masuk halaman sekolah sambil ngebut ... waaahhh ... hilangnya hal-hal kecil, lama kelamaan akan menimbulkan masalah besar.
Barangkali kita terseret arus, banyak teori tapi tidak dapat menjalani, seperti penataran P-4, jadi teori tetapi malah banyak yang korupsi. Mendingan Pancasila itu diwujudkan saja sesuai perilaku dan kondisi kita masing-masing. Terserah caranya bagaimana, bukankah setiap orang dewasa memiliki wisdom (kebijakan) dalam perilaku, tahu mana yang baik dan yang buruk. Terima kasih.

ismail fizh
User offline. Last seen 9 pekan 2 hari ago. Offline
Joined: 28/10/2008

@ pak Djoko, makasih atas pencerahannya....memang kita saat ini juga merasakan perubahan itu.
Kita sama-sama berusaha pak menumbuhkan nilai-nilai itu kembali, kita kangen dengan semua itu.
Ini alamat saya pak, http://opinimerdeka.blogspot.com