Apa Yang Hilang Dalam Pendidikan Kita?
Beberapa waktu lalu, saya merenung atas apa yang saya lihat, alami dan rasakan saat mengajak kerja bakti anak-anak di lingkungan sekolah…sungguh diluar dugaan. Ada kekecewaan, keresahan dan rasa miris (jw. Khawatir diiringi rasa ngeri). Melihat kenyataan seperti itu, kemudian memunculkan banyak pertanyaan tentang apa yang sudah dilakukan oleh sebagian teman-teman saya di lapangan. Mengapa saya katakan sebagian? Karena saya yakin, masih banyak teman-teman seprofesi yang sudah memberikan semua potensi terbaiknya kepada peserta didik tanpa pilih kasih.
- Kepemimpinan yang diawali dengan visi yang bersih dan jelas .
- Berikan penghormatan kepada mereka melalui kepercayaan yang kita berikan.
- Pimpin Mereka dengan keteladanan
- Berperanlah seperti seorang “coach”
- Ciptakan suasana seperti tim yang menang
- Bangun Komunikasi yang baik
- Harus mendorong untuk selalu berinovasi
- Menjadi Pengungkit
- Memimpin dengan kecerdasan spiritual.
- ismail fizh's blog
- Silakan login atau daftar dulu untuk mengirim komentar
Pengalaman yang dialami Bpk. Ismail Fizhi sebenarnya juga terjadi seperti yang saya alami. Ketika kita mengajak siswa untuk melakukan sesuatu yang kita anggap perlu maka kebanyakan mereka akan menolak. Banyak siswa lebih bersikap cuek, sibuk dengan kegiatannya sendiri. Seolah olah mereka tidak ingin adanya kebaikan buat mereka sendiri. Kebanyakan siswa seakan sudah mengerti dari apa yang kita inginkan; padahal, jika dilihat dari hasilnya belum tentu seperti yang kita harapkan. Menghadapi siswa seperti ini memang kesabaran kitalah yang harus dikembangkan dan diutamakan. Kita guru hanya berharap dan berdoa kelak mereka (siswa) akan menemukan jalan yang terbaik buat mereka.
M. Fachruddin Saleh.
SMA Negeri 1 Indralaya Utara Kab. Ogan Ilir
Sebenarnya ini juga sebagai koreksi diri. Apakah kita sudah menjadi suri tauladan bagi diri ini dan orang lain. jangan bilang ke orang lain sebelum diri kita baik. nah kata baik ini susah untuk di artikan dan dilaksanakan. baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. mungkin ini juga pak yang di maksud kan oleh sinetron "KIAMAT SUDAH DEKAT". MAri kita tata dulu niat kita untuk mendidik diri kita baru ke orang. SEMOGA KITA BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG DI RIDHOI ALLOH SWT DAN terakhir Wallohua'lam.
MAri mulai sekarang kita NIATkan mendidik hanya karena ALLOH SWT semata amin
SEMANGAT
jaenuri
sman 1 gresik
@ Pak bagas, Pak fachrudin, dan Bung Jaen:
makasih atas semua pencerahan dan komennya, kita berdoa semoga kita bisa menjadi contoh yg benar untuk peserta didik kita,
Untuk bung jaen, mungkin istilah yg lebih tepat adalah kata "benar" yg dlm bahasa arabnya "Haq" ya? Sebab kalau istilah baik mengandung unsur relatif dan subyektif, coba kita sedikit renungkan, istilah "baik" dan "benar"... :-)
Saya sering ke pelosok (bukan orang kota), melihat di gedung2 SD ada tulisan CERDAS - TERAMPIL - TAQWA. Itu sudah benar, tinggal bagaimana mewujudkannya. Banyak kehilangan ketrampilan, yang sederhana saja, misalkan membuat ketupat, menganyam bambu, belajar berkebun dsb. Taqwa bukan sekedar rajin sholat atau sembahyang tetapi dalam arti luas mencakup pelajaran budi pekerti. Ketika masih SD, saya ingat betul (usia saya skrg 56 thn), semua guru SD saya, begitu memasuki halaman sekolah, dia turun dan sepedanya dituntun, tidak dinaiki, nanti murid2 kadang ada yang menjemput, membawakan tas dan sepedanya. Sekarang hal itu hilang, malah pak guru masuk halaman sekolah sambil ngebut ... waaahhh ... hilangnya hal-hal kecil, lama kelamaan akan menimbulkan masalah besar.
Barangkali kita terseret arus, banyak teori tapi tidak dapat menjalani, seperti penataran P-4, jadi teori tetapi malah banyak yang korupsi. Mendingan Pancasila itu diwujudkan saja sesuai perilaku dan kondisi kita masing-masing. Terserah caranya bagaimana, bukankah setiap orang dewasa memiliki wisdom (kebijakan) dalam perilaku, tahu mana yang baik dan yang buruk. Terima kasih.
@ pak Djoko, makasih atas pencerahannya....memang kita saat ini juga merasakan perubahan itu.
Kita sama-sama berusaha pak menumbuhkan nilai-nilai itu kembali, kita kangen dengan semua itu.
Ini alamat saya pak, http://opinimerdeka.blogspot.com

Wah perpaduan jawa modern yang patut dirunut kembali, semoga di era robotika ini masih dapat menerima keteladanan, kalau saya lihat ( disekitar saya ) yang namanya keteladanan ini musnah sudah semua di"CAPLOK" ditelan oleh dunia selebriti, menurut saya sekarang ini tuntunan jadi tontonan, sedangkan tontonan jadi tuntunan !!! mungkin memang saat inilah yang banyak dikatakan wolak_walik'ing jaman.