FASILITAS: 'E-Book' Hanya Dinikmati di Kota

Avatar budioeding

Mudah-mudahan hal ini bisa disiasati teman-teman Pusat Sumber Belajar dengan turut menyebarluaskan ke sekolah lain ...

JAKARTA (Ant/Lampost): Program buku elektronik (e-book) dinilai hanya memberi kemudahan bagi anak sekolah di perkotaan karena mudah mengakses jaringan komunikasi internet.

"Selama ini, program e-book hanya bermanfaat untuk sekolah-sekolah di daerah perkotaan, sedangkan di perdesaan, bahkan di daerah-daerah pelosok tidak ada manfaatnya," kata pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Jakarta, Utomo Dananjaya.

Menurut dia, sekolah-sekolah yang ada di pelosok desa hingga kini masih jauh dari sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, seperti tidak adanya listrik, komputer, jaringan internet dan lain sebagainya.

"Saya nilai program e-book ini sia-sia dan dianggap pemborosan," kata Utomo seraya menyebutkan beberapa daerah seperti di Provinsi Papua, Kalimantan, dan beberapa wilayah yang belum dijangkau jaringan listrik otomatis masih sulit diterapkan.

Oleh karena itu, kata Utomo, jika penerapan program e-book tidak diawasi dengan baik, akan terkesan dipaksakan. Akibatnya muncul prinsip ketidakadilan dalam proses pendidikan di Tanah Air.

"Kalau dibilang pemborosan mungkin saja tidak karena ada sekolah tidak bisa memakai program e-book dengan alasan minim sarana, sehingga saya menganggap sia-sia," ujar dia.

Ia mengatakan program e-book itu adalah mata pelajaran yang muatannya tinggi dan tidak semua siswa yang ada di perdesaan mampu membaca lewat akses internet, melalui CD dan sebagainya.

Karena itu, menurut Utomo, buku-buku melalui program e-book bukan buku-buku pelajaran tetapi buku-buku bacaan, sebab harganya di toko-toko buku hanya berkisar Rp15 ribu--Rp19 ribu per buah, sementara buku pelajaran di atas Rp30 ribu per buah.

Padahal, umumnya anak-anak sekarang justru lebih banyak memilih buku-buku bacaan, sedangkan membaca buku pelajaran sangat kurang. "Coba lihat saja di daerah, anak-anak jarang membaca buku pelajaran. Jadi lebih baik buku-buku bacaan kecil untuk SD yang diadakan, sementara SMP dan SMA sebaiknya buku pelajaran di perpustakaan, yakni bacaan umum bukan bacaan melalui teks," kata dia.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Dodi Nandika mengatakan pemerintah tahun ini menyiapkan bantuan operasional pendidikan (BOS) buku teks pelajaran untuk SD dan SMP senilai Rp3 triliun (Lampung Post, 20-6). Dana itu disiapkan untuk pengadaan lima buku teks pelajaran bagi siswa SD dan SMP.

Menurut Dodi, tahun lalu pemerintah sudah mengeluarkan BOS buku pelajaran lima judul. Hingga kini total buku teks pelajaran yang dibeli dengan dana BOS buku jumlahnya mencapai 10 judul. Dengan begitu, program BOS buku pelajaran untuk 10 judul tahun ini sudah terlaksana semuanya.

Selain itu, Depdiknas akan membeli hak cipta buku pelajaran dan buku-buku pengayaan lain. Tahun lalu sudah lebih dari 400 judul buku dibeli hak ciptanya dengan harga yang cukup mahal.

"Ke-400 judul buku tersebut kini disiarkan bebas dan bisa diakses masyarakat yang membutuhkan melalui website atau jaringan internet secara cuma-cuma. Silakan gandakan sebanyak mungkin," kata dia. n S-1

Galeri

Anggota Baru

Darmo
EKO PARMINTO
Badaruddin S.Pd
anaksmandak
Nyimas Ratih
FITRI_A
Mohammad Fadel Satriansyah
khalieqs
gunawan guru
Kojiun
zharfan_reidan
suharyanto