Rela Berbagi Ikhlas Memberi

PENGARUH KATA MUTIARA DALAM KELAS TIK


By margo - Posted on 24 Februari 2009

Para pembaca yang budiman, coba kita lirik sebentar tentang kisah Nabi Ibrahim ketika di bakar kaumnya. Seekor burung kecil mencoba memadamkan api dengan setetes air yang dia bawa, tapi burung-burung besar tertawa mengejek. Mereka bilang mana bisa setetes air bisa memadamkan api besar ? Namun si burung kecil menjawab, “Allah tidak akan bertanya padaku mengapa api itu tidak padam, Allah hanya akan bertanya apa usaha yang aku lakukan untuk memadamkan api itu”.

Jadi Allah tidak menilai hasil, tapi lebih pada niat dalam berbuat. Tak penting kita berhasil atau gagal, yang penting semangat mencoba.

Dari sedikit artikel yang saya terima via SMS dari Alumni SMA Negeri 1 Pare 2007, Aliya, membuat saya dan kita akan berusaha sekuat tenaga yang kita mampu untuk berbuat sesuatu. Coba kita persempit pembicaraan, kita coba melihat perkembangan TIK khususnya saat pembelajaran di SMA dari sisi Agama, Islam yang kita jadikan bahan pondasi dasar.

Saya adalah Guru TIK di SMA Negeri 1 Pare, berusaha memberikan kepada siswa tentang rasa dan jiwa kedewasaan dalam belajar teknologi informasi. Terus terang, dengan teknologi internet yang sudah masuk ke dunia pendidikan mulai SD sampai Perguruan tinggi membuat kekhawatiran akan penyalahgunaan teknologi.

Coba kita renungkan, seorang siswa SMA masuk ke warnet, eemm… apa saja situs yang di buka ? guru, orangtua atau presiden pun tidak akan tahu. Padahal apabila kita sedikit saja mengerti keadaan di internet, seorang siswa membuka situs pendidikan atau situs yang memiliki artikel ilmiah tapi situs tersebut menampilkan iklan gambar animasi porno yang memiliki link ke situs induk. Pastilah akan di klik gambar tersebut, berselancarlah dia dan berlama-lama di warnet. Keuntungan juga kan bagi pengusaha warnet ?. Coba kita lihat… niat awal siswa tersebut mencari artikel ilmiah, namun terhenti karena browsing di situs negatif.

Saya berpikir keras bahkan konsultasi atau ngobrol santai dengan guru Agama tentang keadaan ini, jawaban yang saya dapat masih belum dapat memenuhi harapan. Saya coba dengan melakukan diskusi “lepas” dengan teman-teman guru TIK di Kab. Kediri maupun teman-teman guru tingkat Nasional, akhir-akhir pasti saya dapat jawaban klasik, “tergantung dari diri sendiri”. Solusi yang menurut saya mencerminkan orang yang putus asa, tidak berpendirian, dan dalam hati saya sangat membenci orang yang memiliki sikap demikian karena mereka tidak melakukan apapun dan seolah cuci tangan serta ingin menghentikan diskusi.

Saya mencoba mencari jalan sendiri bagaimana kita menjadikan siswa berjiwa dewasa dalam menghadapi perkembangan teknologi, terkadang kurang lebih 5 menit sebelum jam selesai saya beri ilustrasi kecil. Atau yang selalu saya katakan saat mengucapkan perpisahan sebagai berikut :

  1. “Semoga Allah memberi jalan saat kita belajar teknologi”
  2. “Terima kasih atas antusiasnya, semoga ilmu yang kita pelajari hari ini bermanfaat”
  3. “Bisa belajar TIK dengan kelas ini, menyenangkan dan penuh ide baru, terima kasih”
  4. “Berbuatah hal kecil tapi bermanfaat, yang besar kita kerjakan rame-rame”
  5. Ilmu pamungkas saya untuk mencegah siswa melihat film atau gambar porno : “Bagaimana jika pelaku di gambar atau film tersebut adalah Ibu kita ? Bapak kita ? orang-orang yang sangat kita cintai ?”

Setelah saya mengucapkan itu di kelas, luar biasa tanggapan siswa, mereka berteriak “Amiiinnn…”, “Sama-sama Pak, Kita juga senang belajar TIK dengan P.Margo”, “Yaa Paakkk… beres”. Saat kata ke 5 saya lontarkan pada suatu waktu, terlihat ekspresi mereka, ekspresi kebencian dari kata hati, semoga mereka tidak benci saya tapi jadi benci melihat yang porno. Itulah kira-kira sedikit jawaban yang terjadi setiap saya selesai mengajar.

Mematikan Api besar dengan setetes air oleh burung kecil, memberikan kata-kata mutiara saat perpisahan kelas, apakah saya bisa dianggap burung kecil untuk mencegah akibat negatif teknologi informasi ?

ulfatul husna
User offline. Last seen 2 tahun 36 pekan ago. Offline
Joined: 11/05/2009

saya sangat setuju dengan pendapat bapak margo, "bahwa Allah itu lebih melihat niat seseorang daripada hasilnya".dan "segala amal itu tergantung dari pada niatnya". meski kadang tak sedikit orang-oarang disekitar kita memandang ciut terhadap ap yang kita lakukan. seolah mereka menertawakan niat baik kita, yang menurut mereka "impossible". 

terkait dengan masalah penyalahgunaan teknology internet, saya selaku guru agama di sekolah kami, seringkali menyampaikan ke anak-anak "bahwasannya orang yang memiliki mata namun tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka itu layaknya seperti binatang, bahkan lebih rendah dari padanya". 

namun untuk membentuk akhlaq yangmulia, tidak bisa hanya dilakukan oleh seorang guru agama saja, akan tetapi seluruh jajaran tenaga pendidik dan non pendidik juag harus mendukung dan turut serta untuk mewujudkan akhlaq mulia. dan paling penting adalah "dakwah bil haal", yakni dengan contoh perilaku yang baik. dan itulah yang masih sulit untuk diterapkan. kalau dengan kata-kata, insyaAllah semua guru sudah mengajarkan hal-hal yang baik kepada seluruh siswanya, tapi dengan "haal" , itu yang masih belum semuanya.

semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada semau guru-guru di Indonesia "khususnya' supaya dapat melahirkan anak-anak yang cerdas dan berakhlakul karimah. amiiin.