Profesionalisme seorang guru
Guru adalah sebuah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu institusi maupun perorangan yang menyangkut seluruh aktivitas dalam tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan memandu peserta didik dalam rangka menggiring perkembangan peserta didik kearah kedewasaan mental-spiritual maupun fisik-biologis.
Kinerja seorang guru menyangkut semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami guru, jawaban yang mereka buat, untuk memberi hasil atau tujuan. Kinerja dapat ditinjau dari berbagai aspek, baik dari sudut guru maupun siswa. Dari sudut siswa kinerja guru bertujuan untuk menimbulkan respon positif dari bakat dan minat seorang siswa yang akan dikembangkan oleh siswa tersebut melalui proses pembelajaran. Dari sudut guru kinerja guru secara spesifik bertujuan mengharuskan para guru membuat keputusan khusus dimana tujuan pengajaran dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada peserta didik.
Dalam hal kinerja guru lebih diacu pada aspek mutu , baik dari sudut pandang kepemimpinan maupun aspek tekhnis – didaktis. Aspek kepemimpinan akan terlihat pada penampilan guru yang berperan sebagai pemimpin siswa dan sesamanya, aspek teknis-dedaktis adalah dimana guru akan memerankan guru sebagai fasilitator dan nara sumber yang siap memberi konsultasi terarah pada siswanya. (Samana A, Profesionalisme Keguruan, Yogyakarta : Kanisius, 1994 )
Tuntutan kinerja sebagai seorang guru sangat tinggi, baik itu dari dalam maupun dari luar. Dari dalam adalah tuntutan yang bermuara dari individu guru tersebut untuk dapat sebaik baiknya mentransfer disiplin ilmu yang dikuasai, maupun yang paling berat adalah mentransfer nilai-nilai moral yang semua adalah untuk modal dasar peserta didik untuk dalam menjalankan hidupnya dikemudian hari. Sedangkan tuntutan dari luar adalah bagaimana menghasilkan output peserta didik yang mampu bersaing dikehidupan nyata. Tuntutan yang paling berat adalah tuntutan dari luar. Dan yang paling populer adalah ungkapan dari masyarakat bahwa guru adalah sosok yang di gugu dan ditiru. Belum lagi selalu terngiang ditelinga kita syair syair lagu “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ini jelas sangat menjadi beban moral tersendiri bagi guru untuk menjadi tenaga yang profesional.
Melihat kenyataan sekarang ini, tuntutan akan kinerja guru semakin besar. Tuntutan ini bukan hanya sebatas kapasitas sebagai pengajar dan pendidik dikelas, tetapi guru dituntut lebih kreatif, inovatif, mandiri dan profesional. Tuntutan ini disadari atau tidak merupakan suatu kebutuhan sebagai pengajawantahan yang secara eksternal sebagai imbasan atau terkuaknya era globalisasi, dimana didalamnya sarat dengan kompetisi keunggulan. Disisi lain, secara internal munculnya desakan reformasi yang datang sebagai imbasan sebagai kritis politik, ekonomi, dan moral bangsa. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa guru yang menjadi tumpuan harapan masyarakat untuk membangun bangsa patut melakukan pembenahan diri dengan mengerahkan segala kemampuan dengan cerdas. Baik itu cerdas emosional, moral, dan kecerdasan intelektual. Apalagi jelas sekali dalam sejarah perkembangan kemakmuran suatu negara dan bangsa adalah berawal dari kecerdasan seorang guru dalam membina mentalitas para peserta didiknya. Dengan demikian adalah harga mati bagi seorang guru untuk mengoptimalkan kinerjanya sebagai tenaga pendidik yang profesional. Namun tidak kalah pentingnya adalah pemberian reward dari pemerintah bagi sosok guru tersebut, yang pada dasarnya adalah untuk memacu keoptimalan kinerja sebagai seorang profesional. Sehingga kita tidak perlu lagi mendengar syair lagu “ Pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi “ Pahlawan yang wajib diberi tanda jasa”. Karena indikator makmurnya sebuah bangsa adalah makmurnya para pendidik atau guru.
Penulis adalah staf pengajar di SMA3 Singkawang
Dedy Ridansyah
Trims Bu erni...Mari kita tingkatkan kwalitas kita agar kita bisa disebut guru Profesional...
MARI TUNJUKKAN BAHWA KI YANG PROFESIONAL ITA ADALAH GURU SEJAT
Ada 4 Indikator guru profesionalisme yaitu kompetensi fedagogik, kompetensi kperibadian, kemampuan sosial, dan kemampuan profesi,Jadi jika kita menjadi guru profesionalisme mari kita miliki dan amalkan keempat kompetensi tersebut
Guru profesional adalah guru yang berkarakter dan memiliki kompetensi intelektual, sosial, emosional, dan spiritual. Guru adalah profesi profesional satu pilihan menjadi Guru hendaknya dicintai, dihargai, dan selalu mengembangkan kecerdasan diri karena guru ditempatkan dalam posisi terhormat apalagi dengan lahirnya UU Guru dan Dosen.
Menurut Rochman Natawidjaja, seluruh kemampuan guru itu dalam enam komponen pokok, yaitu:
(a) unjuk kerja ( performance),
(b) penguasaan materi pelajaran yang harus diajarkan kepada siswanya,
(c) penguasaan landasan professional keguruan dan pendidikan,
(d) penguasaan prose-proses pengajaran dan pendidikan,
(e) penguasaan cara untuk menyesuaikan diri, dan
(f) kepribadian.
guru masih dianggap kelompok masyrakat golongan 2, yang utama adalah karyawan di industri. padahal guru adalah kelompok masyarakat kelas utama. ketika jepang hancur, yang pertama dicari adalah berapa banyak guru yang tersisa. artinya kebangkitan bangsa ini bangaimana guru menjadi yang paling utama dari yang utama. ketika guru profesional dalam arti yang sebenarnya, mudah2an terealisasi.
propseionalisme guru bukan diukur dengan lulus sertifikasi secara administrasi, tetapi bagaimana wujud nyatanya dalam dunia pendidikan. bisakan ia menjadi sosok taulaladan bagi yang lainnya.
Perjuangan tidak akan berhenti. Meminjam ungkapan Presiden Sukarno,
Guru bukan penghias alam,tetapi membentuk manusia.
Masih ingat pada Ho Chi Minh yang mengatakan,
"No teacher >no education"
"No education >no economic and sosial development"
Mari kita bangkitkan semangat menjadi guru yang benar-benar profesional. Semangat Pagi !!!
Untuk meningkatkan profesional guru , yang paling adalah program penataran yang merata dan tes kemampuan yang rutin.
Penataran selama ini hanyalah orang-orang tertentu saja. dilain pihak ada guru yang tidak tersentuh penataran. Harusnya sepeti BRI, apabila ada hal yang baru, lalu seluruh pegawai ditatar, apabila yang belum harus menyusul.
Tes kemampuan, maksudnya mungkon tiap awal tahun ditiap kabupaten diadakan tes tulis kemampuan bidangnya, wawasan pedoogiknya, pngetahuna umumnya. Dengan demikian maka tiap guru akan selalu belajar, karena takut nilai nya jelek. Kalau perlu dirangking tiap pelajaran, dan punya sertifikat rangking tiap kabupaten. Seperti pemain bulu tangkis.
Sekarang ini yang dikejar cuma gelar. Harus S-1, S-2. Padahal sertifikat gampang dipalsukan, banyak ongkang-ongkang lalu dapet gelar. Atau kuliahnya di tempat seadanya. Yang untung pengelolanya. Guru tak sadar dipakai "lahan obyekan", misal: penataran-penataran, pelatihan-pelatihan cukup menyetor uang, lalu dapet sertifikat.
Siswa membutuhkan guru yang serba bisa. Bisa dibidangnya, bisa musik, bisa olahraga, bisa pidato, bisa keterampilan. Jadi siswa tak butuh gelar.
Untuk bisa seperti itu , maka pemerintah secara perodik seharusnya bagi tiap guru wajib penataran gratis untuk, bidang ekstrakurikuler. Sekarang sulit mencari guru yang mau, Paskibra, Pramuka, keterampilan, karena memang tidak bisa .
Lebih Cepat Lebih Baik.
Bagus. Ok Ide dari pak Dedy, profesi guru harus dipertegas agar lebih memiliki makna yang luhur. Profesi guru selain mengajarkan berbagai ilmu kognitif tetapi juga ilmu afektif harus diajarkan, terutama mengajarkan tentang kejujuran karena pendidikan kejujuran akan menjadikan semua orang menjadi pribadi yang untuk bahkan meningkatkan harga diri dan memperbaiki masa depan. Amiin.
Yogyakarta, 7 Juli 2010
14.19.37
Eddy Sukarsa/SMAIT abu Bakar, yogyakarta
jadi ingat pesan dosen akta dari UMS :D profesi (bukan lagi dikatakan pekerjaan) guru adalah profesi yang butuh keikhlasan, benar-benar ikhlas, suatu yang sangat mudah di lisan tapi sulit di hati.
Guru yang profesional harapan tiap orang, tidak hanya masyarakat, tapi merupakan kebutuhan juga untuk dunia pendidikan, ya dengan kata lain dikatakan untuk menghasilkan lulusan yang profesional harus diajar pula oleh guru profesional. Profesionalisme guru.
Namun kenapa belum terdengar lagi istilah "guru yang baik"? Guru yang akan selalu dikenang sepanjang masa dan apa yang diajarkannya selalu melekat di benak para siswa didiknya walaupun guru sudah tidak lagi tampak di mata.
Guru..
Moga profesi ini selalu direnungkan
Thanks saudara sesama guru se Indonesia...Saya berharap semua mampu berkreasi untuk mengembang Kompetensi kita,sehingga guru tidak lagi dipandang sebelah mata...
Bravo PSB...semangat Pagi
maju terus guru indonesia.......guru yang profesional mampu mengembangkan semua kemampuan yang ada pada dirinya demi kemajuan bangsa dan negara...

saya sangat setuju dengan pendapat anda tapi tugas kita sekarang para guru bagaimana agar setiap guru mampu meningkatkan kualitas nya sehingga dimata siswa dan dimata masyarakat guru adalah sosok yang patut diteladani .....maju terus dunia pendidikan